Break The Waves! Dari Trial and Error menjadi Lautan Prestasi

SEMARANG (07/08) — Menembus ombak bukan perkara sekali jalan. Bagi Aterkia Diponegoro, setiap trial and error menjadi bagian dari perjalanan untuk mengubah kegagalan menjadi prestasi. Di balik gemilangnya gelar Juara 1 Funrise dan Juara Harapan 2 pada kategori Autonomous Surface Vehicle (ASV) tahun 2025, ada dedikasi luar biasa dari URDC (Undip Robotics Development Center) divisi Kontes Kapal Indonesia (KKI). Kini, ambisi mereka kembali menyala setelah tim kapal selam ROV (Remotely Operated Vehicle) resmi mengamankan tiket menuju KKI 2026 di Pulau Bengkalis, Sumatra. Untuk mengulik lebih dalam persiapan menuju kompetisi ini, Bidang Riset dan Keilmuan BEM UNDIP bersama Kantor Prestasi Mahasiswa Universitas Diponegoro melakukan dialog eksklusif dengan Muhammad Bintang Tri Surya, General Manager Aterkia tahun 2026.

KKI sendiri merupakan kompetisi tingkat nasional yang bergerak pada bidang rancang bangun kapal, mulai dari tahap perancangan hingga pembuatan prototipe. Di Universitas Diponegoro, Aterkia berfokus pada rekayasa robot kapal, khususnya dalam kategori ASV dan ROV. Keberadaan Aterkia menjadi wadah bagi mahasiswa yang tertarik pada robotika dan teknologi kelautan untuk meningkatkan keahlian mereka melalui riset, sekaligus mempersiapkan diri dalam menghadapi kompetisi. Dalam jangka panjang, Aterkia berharap dapat terus menyumbang prestasi bagi UNDIP dan meningkatkan kapasitas tim hingga mampu bertanding pada standar internasional. Sepanjang tahun 2025, Aterkia telah menorehkan prestasi sebagai Juara Harapan 2 dan Juara 1 di cabang otonom Funrise, sebuah pencapaian gemilang yang kini menjadi bekal sekaligus pijakan kuat untuk mengejar target yang lebih tinggi di tahun 2026. 

Pencapaian tersebut tentu tidak diraih tanpa hambatan. Jauh sebelum kompetisi dimulai, fase uji coba (trial) menjadi tahapan yang paling menantang. Pada titik inilah tim harus memastikan tingkat optimalisasi dari riset dan rancang bangun yang telah dikerjakan. Dalam prosesnya, berbagai kendala teknis kerap bermunculan, baik dari segi pemrograman, mekanikal, maupun elektrikal. Situasi ini menuntut tim untuk senantiasa melakukan evaluasi dan perbaikan secara komprehensif. Menariknya, seluruh proses intensif ini berjalan beriringan dengan padatnya jadwal perkuliahan, praktikum, dan aktivitas akademik lainnya. Bagi mereka, tuntutan akademik di kelas dan riset di laboratorium adalah dua hal yang saling menopang, bukan saling memperebutkan waktu. 

Setelah melewati rangkaian trial dan pengembangan, langkah Aterkia mulai mengerucut menuju KKI 2026. Dari dua robot yang dikembangkan, kapal selam Aterkia ROV berhasil lolos untuk mengikuti KKI 2026 dan menjadi fokus produksi, sementara kapal robot Aterkia ASV tetap dilanjutkan sebagai bagian dari riset, demonstrasi, dan sarana pembelajaran bagi para staf. Kapal yang dikembangkan sendiri merupakan kapal miniatur yang dirancang untuk kebutuhan kompetisi dengan fokus pada kemampuan navigasi secara otonom, sehingga mampu mencari jalur dan melakukan navigasi secara otomatis atau nirawak. 

Menariknya, dengan dukungan dari Riskel dan Kantor Prestasi, kesibukan akademik justru tidak dipandang sebagai suatu hambatan dalam proses riset. Di tengah aktivitas perkuliahan, Aterkia memegang prinsip bahwa kemampuan akademik merupakan fondasi utama untuk mengembangkan keahlian di bidang robotika. “Saya harus jago di kuliah baru bisa jago di robotik,” ujar salah satu pengurus Aterkia. Kutipan tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana urusan akademik dan riset dapat berjalan berdampingan. Saat bertanding, Aterkia juga memiliki pesan tegas yang selalu dipegang teguh: jangan pernah meremehkan lawan dan selalu patuhi Standar Operasional Prosedur (SOP). Mereka sadar bahwa ambisi tidak boleh mengalahkan kesiapan, karena keunggulan di atas kertas tidak menjamin kemenangan di lapangan. Prinsip-prinsip ini sekaligus menunjukkan bahwa proses pengembangan robot bukan sekadar soal kemampuan teknis, melainkan juga tentang bagaimana setiap anggota mampu menjaga konsistensi akademik dan tetap rendah hati dalam melalui semua proses bersama Aterkia. 

Menghadapi ajang KKI 2026 yang akan digelar di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau pada 14 – 17 September mendatang, Aterkia utusan UNDIP memiliki tekad kuat untuk tidak sekadar menjadi partisipan, tetapi juga meraih gelar juara. Pengorbanan tenaga dan waktu selama masa persiapan diharapkan mampu membuahkan prestasi serta pengalaman yang berharga. Guna mewujudkan target tersebut, Aterkia sepakat untuk berpegang teguh pada kriteria perlombaan dan SOP, alih-alih dibutakan oleh ambisi semata. Mereka sangat menyadari bahwa dinamika kompetisi sangatlah cair; tidak ada posisi yang mutlak aman karena setiap lawan berpotensi memberikan kejutan. 

Pada setiap perlombaan pastinya akan ada beberapa kegagalan kecil yang akan terjadi. Hal tersebut bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi, karena perlombaan ini merupakan tanggungjawab bersama, itulah yang dinamakan tim. Memang dalam hal perlombaan tidak ada yang mudah, maka dari itu mereka memiliki slogan “Rayakan perih rayakan letih rayakan juara.” Sebuah reminder bahwa setiap proses, sekecil apapun kegagalannya, merupakan bagian dari perjalanan menuju pencapaian yang lebih besar.