SEMARANG (17/2) – Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) seringkali menjadi ajang bergengsi yang menantang bagi mahasiswa. Untuk mengupas tuntas strategi dan pengalaman di balik kesuksesan tersebut, Bidang Riset dan Keilmuan BEM UNDIP bersama Kantor Prestasi Mahasiswa Universitas Diponegoro baru saja melakukan wawancara eksklusif dengan Bayu Saputra, atau yang akrab disapa Bayu. Sebagai mahasiswa Kimia yang berhasil menembus Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke 38 Tahun 2025 yang berlangsung di Universitas Hasanuddin melalui skema PKM Kewirausahaan (PKM-K) dan meraih prestasi Medali Emas Presentasi dan Medali Emas Poster, Bayu membagikan perjalanan timnya dalam mengembangkan produk inovatif bernama “Chitoma”. Dalam ajang ini, tim Bayu mengangkat produk Edible Coating berbahan dasar kitosan (kulit udang) dengan jenama Chitoma. Produk ini berfungsi sebagai pengawet alami buah dan sayur, menggantikan penggunaan lilin yang kurang aman bagi kesehatan.

Perjalanan Bayu dalam dunia riset dan kreativitas tidak dimulai dengan mulus. Ia mengaku sudah mengenal konsep kompetisi ilmiah sejak SMA melalui OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia), namun belum berhasil lolos saat itu. Kegagalan tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Justru, ketertarikannya semakin tumbuh saat memasuki dunia perkuliahan. Meski Bayu berasal dari jurusan Kimia, ia memilih skema Kewirausahaan (PKM-K) karena ketertarikannya pada dunia bisnis. “Sebenarnya waktu itu kita coba-coba dulu karena masih awal, semester 1. Kalaupun tidak lolos, masih ada kesempatan pada tahun berikutnya. Awalnya lebih ke penasaran teknis PKM itu seperti apa,” ujar Bayu menceritakan awal mula pembentukan timnya yang dimulai sejak semester satu.
Tim Chitoma terdiri dari lima anggota yang berasal dari empat program studi/jurusan berbeda: Bayu Saputra dan Salik Bahrudin (Kimia, FSM), Siti Sofia Ranti (Teknologi Pangan, FPP), Argitta Nova Triana (Ilmu Gizi, FK), dan Velin Yohanita (Bisnis Digital, FEB) dan dosen pendamping Nor Basid Adiwibawa Prasetya, S.Si., M.Sc., Ph.D. (Kimia, FSM). Salah satu kunci sukses tim ini, menurut Bayu, terletak pada keberanian mengambil langkah kolaborasi lintas disiplin ilmu. “Justru perbedaan jurusan ini yang menurut aku jadi kuat. Anak Kimia paham material dan proses pengolahannya, anak Teknologi Pangan paham regulasi, anak Ilmu Gizi paham nutrisi dan marketing, serta anak Bisnis Digital mengurus aspek bisnisnya. Kolaborasi inilah yang saling menguatkan,” jelasnya.
Perjalanan menuju PIMNAS tidaklah mudah. Bayu mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah manajemen waktu, mengingat saat itu timnya masih berada di semester 3 dengan jadwal praktikum yang padat. Selain itu, dinamika tim sempat mengalami pasang surut, terutama menjelang PIMNAS di mana rasa demotivasi sempat muncul. “Kita sering melakukan evaluasi rutin. Kuncinya adalah komunikasi. Kalau ada yang demot (demotivasi), kita ketemu dan ngobrol. Kita saling mengingatkan bahwa kita punya visi yang sama,” ungkap Bayu mengenang momen-momen krusial di mana timnya harus saling menguatkan kembali semangat satu sama lain.
Menutup sesi wawancara, Bayu memberikan pesan penting bagi mahasiswa yang masih ragu untuk mengikuti PKM. Menurutnya, masa kuliah adalah waktu terbaik untuk mencoba banyak hal, termasuk mengalami kegagalan. “Jangan takut gagal. Kalau kita berani mencoba, kita punya kesempatan untuk berhasil. Tapi kalau tidak berani mencoba, kita sudah pasti gagal,” tegasnya. Keberhasilan Tim Chitoma membuktikan bahwa dengan inovasi yang tepat, kolaborasi yang solid, dan mental pantang menyerah, mahasiswa semester awal pun mampu bersaing dan berprestasi di kancah nasional.