SEMARANG (17/04) — Dari seseorang yang bukan siapa-siapa menjadi seorang yang ternama, dulu ditolak dimana-mana hingga sekarang menjadi mahasiswa yang meraih juara pada ajang yang sangat bergengsi. Untuk mencari tahu bagaimana keberlangsungan dari awal sampai bisa menjadi juara, Bidang Riset dan Keilmuan BEM UNDIP bersama Kantor Prestasi Mahasiswa Universitas Diponegoro baru saja melakukan wawancara eksklusif dengan Callysta Najmi Raissa, atau yang akrab disapa Callysta. Seorang mahasiswa Teknologi Rekayasa Kimia Industri yang berhasil meraih Juara 1 Program Diploma PILMAPRES 2025 Tingkat Nasional. Berawal dari seorang yang kurang eksplor selama masa SMA, lalu memberanikan diri untuk mencoba menjadi Master of Ceremony di acara vokasi, hingga akhirnya ia menjadi sang juara.
Perjalanan Callysta menjadi juara Pilmapres tidak pernah ia rencanakan, bahkan ia sendiri tidak menyangka bisa melangkah sejauh itu. Sempat dipandang sebelah mata sebagai mahasiswa gap year, ia justru menjadikan kegagalan sebagai titik awal untuk bangkit dan berkembang. Ia mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan di perkuliahan hingga akhirnya direkomendasikan menjadi delegasi Pilmapres. Dalam prosesnya, ia tidak memasang ekspektasi tinggi dan merasa peserta lain lebih unggul, namun rasa penasaran akan batas kemampuannya mendorongnya untuk terus mencoba meski disertai rasa takut. Dengan dukungan dari para dosen, Callysta berhasil mengatasi keraguan dalam dirinya dan melampaui batas yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Dalam keberjalanan rangkaian acara Pilmapres, Callysta kurang percaya diri pada aspek penilaian Capaian Unggulan (CU) yang ia miliki, maka dari itu ia lebih memilih untuk mengasah bakatnya pada aspek penilaian Produk Inovatif (PI). Diluar dari Produk Inovatif yang diasah, Callysta juga meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris yang ia miliki. Ia melihat segi penilaian lomba dari beberapa aspek yang mencakup cara berbicara, cara berinteraksi, serta cara menjaga sikap pada saat melakukan presentasi di depan juri. Hal yang ia pegang teguh didalam hati adalah bahwa “Show the real character”, dimana ia mengemukakan bahwa didalam perlombaan kita harus membawakan diri kita yang terbaik tanpa mengada-ada dan menikmati proses dari awal hingga akhir.
Persiapan Callysta untuk Pilmapres berlangsung sekitar satu tahun penuh. Selama proses itu ia juga harus menghadapi beban akademik yang tidak ringan, terutama di semester 5 yang ia akui sangat berat. Dirinya mulai merasakan adanya perasaan burn-out. Ketika sudah merasa kewalahan, Callysta mempunyai caranya sendiri supaya tidak mengalami perasaan burn-out dengan tidur yang cukup, membereskan kamar, mencari suasana baru di luar kos, dan yang paling penting bercerita kepada Feli, teman sekaligus rekan timnya. Strategi manajemen waktunya pun sederhana, dengan membuat catatan mengenai penentuan untuk mulai darimana, serta menyadari bahwa waktu terus berjalan. “Mau gimanapun, waktu itu berjalan secepatnya. Kita harus sadar dan mulai dari mana,” ujarnya.
Dibalik perjalanan yang telah ia lalui, ada satu tokoh yang paling berpengaruh dalam hidup Callysta, yaitu ayahnya. Sang ayah selalu mendukung semua hal yang Callysta lakukan, termasuk saat ia pertama kali mencoba menjadi MC di acara kampus, sang ayah selalu ada memberi dukungan. Dan justru dari itulah Callysta mulai dikenal dan diperhatikan. Prinsip sederhana dari ayahnya yang ia pegang hingga kini, “Jangan pilih-pilih kesempatan. Jangan menilai hal kecil itu jelek, karena bisa jadi hal kecil itulah yang bikin kamu besar.” Karakter ayahnya yang suka berani terjun langsung tanpa banyak pertimbangan, rupanya menurun ke Callysta.

Menurut Callysta, pandangan masyarakat Indonesia terhadap vokasi masih dianggap remeh. Padahal pendidikan Sarjana terapan (D4) setara dengan pendidikan sarjana (S1). Perbedaannya hanya pada kurikulum yang dibawakan. Pada pendidikan vokasi lebih banyak praktik dibanding dengan teori. Kemudian, fasilitas yang terdapat di Vokasi Universitas Diponegoro saat ini sudah memadai. Mahasiswanya juga banyak yang memiliki pengalaman di bidang riset atau bahkan bidang lainnya. Kebiasaan Callysta untuk melakukan riset ini terbentuk salah satunya karena terbiasa melakukan praktikum dalam perkuliahan, mengikuti proyek dosen, dan mengikuti lomba-lomba seperti PKM.
Di penghujung wawancara, Callysta menitipkan pesan yang sederhana tapi dalam. Ia mengingatkan bahwa bisa kuliah saja sudah merupakan sebuah privilege yang tidak dimiliki semua orang, dan menyia-nyiakan kesempatan itu adalah hal yang sangat disayangkan. Kedepannya, ia sendiri punya rencana yang lebih terstruktur, fokus lulus dan mendapatkan pekerjaan. Tidak harus selalu sempurna, tapi penuh dengan tekad. Dan untuk siapapun yang masih ragu untuk melangkah, Callysta punya satu pesan, “Coba aja, apapun itu, sekecil atau sebesar apapun kesempatannya. Kalau jelek jadi pembelajaran, kalau bagus, ya juga jadi pembelajaran. Semua orang punya jalannya masing-masing. Jangan takut, semangat. Cape it’s okay, bangun lagi.” Kisah perjuangan Callysta membuktikan bahwa kita harus berani untuk memulai suatu hal yang belum pernah kita coba dengan diiringi niat dari hati, sehingga pada akhirnya akan membuahkan suatu hasil yang manis.