Felicia Hestiawan Raih Pilmapres Nasional melalui Pemanfaatan Peluang dan Konsistensi Pengembangan Diri di UNDIP

SEMARANG (10/04) – Dari seorang mahasiswi yang sempat mengalami kegagalan, Felicia Hestiawan berhasil membuktikan bahwa keberanian untuk memulai dan konsistensi dalam memanfaatkan peluang dapat membawanya hingga ke tingkat nasional. Bidang Riset dan Keilmuan BEM UNDIP bersama Kantor Prestasi Mahasiswa Universitas Diponegoro baru saja melakukan wawancara eksklusif dengan Felicia Hestiawan mahasiswi berprestasi Universitas Diponegoro yang berhasil meraih gelar Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Tingkat Nasional Tahun 2025, Melalui ajang Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2025, Felicia tidak hanya menjadi representasi Universitas Diponegoro, tetapi juga menunjukkan bagaimana proses panjang dapat mengantarkan seseorang pada pencapaian yang lebih besar.

Perjalanan Felicia dimulai dari sebuah kegagalan yang sempat menjadi titik balik dalam hidupnya. Keinginannya untuk berkuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung) agar ia tidak pergi jauh, dan meninggalkan kota tercintanya. Namun, takdir berkehendak lain yang akhirnya membawa Felicia untuk berkuliah di Universitas Diponegoro. Namun, alih-alih bersedih, Felicia memilih untuk beradaptasi dan melihat kesempatan baru. Masa awal perkuliahan menjadi fase penting baginya untuk menyadari bahwa proses belajar tidak hanya terbatas pada akademik, tetapi juga pada keberanian untuk berkembang di luar kelas. Semester satu, sebagai semester perkenalan untuk semua mahasiswa.

Mahasiswa berprestasi seperti Felicia pun melalui fase adaptasi di awal perkuliahan. Ia menyadari bahwa kemampuan akademik saja tidak cukup untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan. Dimulai dari kesadaran tersebut, Felicia menanamkan prinsip untuk tidak menjadi mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah–pulang) dan mulai mengambil langkah nyata sejak semester dua. Ia secara aktif mencari berbagai peluang melalui media sosial, mulai dari lomba, magang, hingga kegiatan pengembangan diri lainnya. Konsistensi inilah yang perlahan membawanya keluar dari zona nyaman dan membuka lebih banyak kesempatan untuk berkembang.

Kehidupan sebagai anak rantau menjadi tantangan tersendiri bagi Felicia, terutama dalam mengelola kebutuhan sehari-hari. Namun, kondisi tersebut justru membentuk cara pandangnya dalam melihat peluang. Ia mulai memanfaatkan berbagai kompetisi tidak hanya sebagai ajang pengembangan diri, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperoleh pengalaman sekaligus dukungan finansial. Dari titik inilah, Felicia secara aktif mulai mengikuti berbagai perlombaan, baik di tingkat nasional maupun internasional, sebagai langkah awal dalam membangun perjalanan prestasinya.

Perjalanan Felicia menuju kancah internasional tidak lepas dari dorongan motivasi yang kuat untuk berani memulai. Salah satu faktor pendorong utamanya adalah keinginan untuk tidak tertinggal dari teman-temannya, yang kemudian berkembang menjadi motivasi untuk terus berprestasi hingga tingkat internasional. Motivasi tersebut tidak hanya berhenti sebagai dorongan, tetapi juga diwujudkan melalui keberanian Felicia dalam mengambil setiap peluang yang ada sebagai bagian dari proses pengembangan dirinya. Dorongan tersebut kemudian membawanya untuk mengikuti kegiatan Mahasiswa Berprestasi (Mapres) yang diselenggarakan oleh BEM Universitas Diponegoro. Ketertarikannya bermula saat ia menyaksikan kakak tingkat sekaligus teman dekatnya meraih predikat Mahasiswa Berprestasi (Mapres) pada tahun 2024, yang kemudian menginspirasi Felicia untuk lebih mendalami program tersebut.

Kesempatan bagi Felicia untuk mengikuti ajang Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) datang melalui ajakan salah satu dosennya. Mengingat panjangnya rangkaian seleksi yang harus dilalui, Felicia dituntut untuk mampu mengelola waktunya secara efektif. Ia pun menerapkan metode time blocking untuk menyeimbangkan antara tanggung jawab akademik dan persiapan Mawapres yang dijalaninya. Dalam perjalanannya, Felicia menyadari bahwa rangkaian Mawapres tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasinya. Berbeda dari bayangannya, sistem yang digunakan bersifat individu dengan mekanisme penilaian yang ketat. Penilaian tersebut terbagi ke dalam tiga komponen utama, yaitu Capaian Unggulan (35%), Gagasan Kreatif (35%), dan Kemampuan Bahasa Inggris (30%). 

Di tengah tuntutan tersebut, Felicia tidak terlepas dari fase penurunan motivasi yang menjadi salah satu tantangan terbesarnya. Meski demikian, ia tetap berkomitmen untuk menjalani setiap proses yang ada. Felicia pun memiliki cara tersendiri untuk bangkit dari kondisi tersebut. “Saat merasa demotivasi, istirahat. Lakukan hal-hal yang kamu sukai, beri apresiasi pada diri sendiri, serta luangkan waktu untuk refleksi, seperti menulis diary. Jangan lupa berdoa. Allow yourself to be happy,” tuturnya. Prinsip sederhana tersebut menjadi pegangan Felicia untuk menjaga semangat dan tetap produktif dalam mencapai tujuannya.

Di luar ajang Pilmapres, Felicia juga aktif memanfaatkan berbagai peluang lain yang muncul. Ia mencoba mengikuti COC (Clash of Champions) dengan niat awal sekadar mengeksplorasi pengalaman baru. Namun, dari langkah kecil tersebut, ia justru berhasil lolos tahap seleksi awal hingga akhirnya terpilih sebagai finalis. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa keberanian untuk mencoba seringkali membuka peluang yang tidak terduga. Selain itu, Felicia juga menulis sebuah buku sebagai bagian dari tugas mata kuliah yang ia jalani, yang kemudian menjadi salah satu poin penting dalam Pilmapres. Proses ini bahkan membawanya menjalin kerja sama dengan Fasindo, yang semakin memperluas jangkauan karyanya. Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana Felicia mampu mengoptimalkan setiap kesempatan yang datang menjadi langkah nyata menuju pengembangan diri.

Menutup sesi wawancara, Felicia membagikan pesan penting bagi mahasiswa untuk tetap terbuka terhadap setiap peluang yang ada dan tidak terpaku pada satu jalan saja. “Jangan hanya menjadi mahasiswa ‘kupu-kupu’, karena masih banyak pengalaman berharga di luar sana yang tidak bisa didapat jika kita tidak berani melangkah,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa perjalanan menuju prestasi bukanlah proses yang instan, melainkan hasil dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dengan tetap menjaga keseimbangan diri, berpikir terbuka, dan terus memanfaatkan setiap kesempatan, mahasiswa dapat berkembang secara bertahap dan progresif dalam mencapai tujuannya.