SEMARANG (07/08) — Sayap patah, komponen rusak, hingga pesawat gagal terbang bukanlah hal yang asing bagi Tim Gentayu Universitas Diponegoro. Di balik setiap crash yang terjadi dalam test flight, terdapat parameter yang harus dievaluasi, desain yang perlu diperbaiki, dan percobaan baru yang kembali menanti. Berada di bawah naungan Undip Robotic Development Center (URDC), Gentayu menjadi wadah bagi mahasiswa Universitas Diponegoro dari berbagai fakultas untuk mengembangkan riset mengenai robot di bidang pesawat tanpa awak. Untuk mengulik lebih dalam perjalanan tim dalam mempersiapkan kompetisi, Bidang Riset dan Keilmuan BEM UNDIP bersama Kantor Prestasi Mahasiswa Universitas Diponegoro melakukan wawancara bersama Rafli Hariyandi, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2023 sekaligus General Manager Gentayu tahun 2026.
Pada perlombaan KRTI, Gentayu mengikuti empat dari lima kategori perlombaan, yaitu Racing Plane, Fix Wing, LELA (Long Endurance Low Altitude), dan VTOL (Vertical Take-off and Landing). Masing-masing membawa misi yang berbeda-beda. Racing Plane berfokus pada perlombaan atau drag race dalam versi pesawat, sementarai Fix Wing diarahkan untuk pemetaan sungai atau daratan dengan kemampuan live streaming hingga radius 15 kilometer. Sementara itu, LELA memiliki konsep penerbangan live streaming serupa, tetapi fokus pada pemantauan titik api, sedangkan VTOL memiliki bentuk seperti drone dengan misi tahun ini sebagai pembawa medical kit dalam radius yang lebih kecil. Keberagaman kategori ini membuat riset Gentayu tidak hanya berfokus pada satu bentuk pesawat, tetapi juga menyesuaikan pengembangan teknologi dengan kebutuhan setiap misi perlombaan.

Di balik beragamnya kategori perlombaan yang ada, proses riset Gentayu tidak selalu berjalan mulus. Trial and error menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pengembangan pesawat, terutama karena setiap hasil riset perlu dibuktikan melalui test flight. Tidak semua parameter yang dirancang di atas kertas dapat langsung menghasilkan kondisi yang diharapkan ketika diterapkan di udara. Dalam beberapa pengujian, bahkan dapat terjadi crash maupun kerusakan pada pesawat. Situasi tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi tim, sekaligus menjadi bagian dari proses evaluasi untuk menemukan pengembangan yang lebih tepat.
Untuk menjaga agar proses riset tetap berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya, Gentayu membangun struktur yang terbagi menjadi bidang teknis dan nonteknis. Bidang tersebut kemudian dibagi kembali ke dalam empat tim dengan ketua masing-masing. Posisi ketua umumnya diisi oleh mahasiswa tahun kedua atau ketiga yang telah memiliki pengalaman di Gentayu, sementara mahasiswa yang lebih baru ditempatkan sebagai staf dan dipersiapkan untuk melanjutkan peran pada tahun berikutnya. Pada sisi nonteknis, terdapat bagian eksternal yang menangani sponsorship dan hubungan masyarakat, internal yang mengurus administrasi, serta media. Pola tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses regenerasi agar pengetahuan dan pengalaman dalam tim dapat terus diteruskan kepada anggota berikutnya.
Dengan banyaknya tim dan bidang yang berjalan secara bersamaan, komunikasi menjadi salah satu tantangan utama. Karena pada dasarnya, pada setiap tim riset memiliki divisi yang saling berkaitan satu sama lain. Apabila terdapat miskomunikasi, akan berdampak ke seluruh progress divisi dalam perlombaannya. Untuk menyatukan perbedaan pendapat dan memastikan setiap bagian tetap bergerak dalam arah yang sama, Gentayu mengadakan rapat rutin yang dihadiri oleh pillar Gentayu, terdiri dari para ketua tim, kepala divisi, dan ketua nonteknis. Pertemuan tersebut dilakukan setiap bulan untuk membahas perkembangan masing-masing tim sekaligus melihat apakah terdapat kesenjangan dalam proses riset. Bagi tim, koordinasi menjadi penting karena setiap bagian saling berkaitan dan perkembangan satu tim dapat memengaruhi keberjalanan tim lainnya.
Di tengah kesibukan kuliah, praktikum, dan aktivitas organisasi, anggota Gentayu juga dituntut untuk mampu membagi waktu. Bagi Rafli, pembagian antara akademik dan organisasi dilakukan kurang lebih 50:50. Keseimbangan tersebut menjadi penting karena proses riset tetap berjalan bersamaan dengan kewajiban sebagai mahasiswa. Dengan pembagian waktu dan tanggung jawab yang jelas, kegiatan akademik maupun pengembangan tim dapat tetap berjalan beriringan.
Setelah melalui berbagai proses pengembangan, target Gentayu pada tahun ini cukup jelas: meraih juara di masing-masing divisi yang diikuti. Target tersebut muncul dari evaluasi terhadap pencapaian tahun sebelumnya yang dinilai masih belum cukup terlihat di tingkat nasional. Karena itu, kompetisi tahun ini menjadi kesempatan bagi tim untuk menunjukkan hasil riset sekaligus membawa Gentayu dan UNDIP tampil lebih kuat di kancah nasional. Namun, dibalik target tersebut, tim menyadari bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, melainkan juga oleh kesiapan dan komunikasi antar bagiannya.
Hebatnya, tim URDC cukup tanggap dalam memberikan wadah bagi mahasiswa yang memiliki keinginan dalam hal teknis maupun non teknis pada divisi perlombaannya. Bahkan, setiap mahasiswa undip memiliki kesempatan yang sama untuk dapat bergabung menjadi bagian dari tim URDC. Dengan begitu, diharapkan URDC dapat terus menjadi ruang tumbuh bagi seluruh mahasiswa Universitas Diponegoro yang ingin mengembangkan potensinya dalam dunia robotik.
